sajen.id

DIBALIK NAMA DOMAIN, KENAPA?

Sa & Aji(-an) merupakan dua kata dari Jawa yang saya percaya merupakan asal dari kata Sajen yang kalau di translate secara dangkal ke Bahasa Indonesia sama dengan kata Persembahan yang sudah pasti terjemahan yang menyamaratakan itu sangatlah tidak tepat. Sa bisa diartikan Esa atau Tunggal dan Aji bisa berarti Kekuatan atau Ajaran dan masih banyak lagi, memang agak susah di terjemahkan ke Bahasa Indonesia karena Basa Jawa (& Sunda) sangat melibatkan yang namanya Roso dan selalu meperhitungkan yang namanya Patrap ataupun Sangkan Paran atau secara general Basa Jawa selalu memperhitungkan ruang dan waktu dan yang perlu menjadi catatan yaitu kata-kata asli di Jawa adalah hasil panemu (ijtihad).

Sayangnya kata Sajen dimaknai sangat negatif terutama karena perwujudan nyata dalam budaya masyarakat Jawa atas kata satu ini. Saya hanya bisa berasumsi hal itu dikarenakan adanya pergesekan budaya yang memang seringkali gesekan itu terjadi karena ketidakmengertian atau karena ketidakbiasaan berpikir why (kenapa) secara mendalam (atau secara ekstrim saya katakan maaf malas).

Sajen secara esensial menurut saya adalah salah satu dari perwujudan konsep Manunggal dan secara historis tidak ada proses baku untuk menunjang proses ke-manunggal-an itu maka proses atau implementasi Sajen bisa muncul dalam berbagai bentuk. Salah satu implementasi Sajen secara fisik yang menarik adalah bahwa perwujudan ini bisa menjadi suatu bentuk kesepakatan dalam rangka sesrawungan (silaturahmi), sebagai contoh dalam keluarga saya masih melakukan tradisi Among sebagai token repetitif yang menunjukkan bahwa keluarga tidak akan pernah melupakan atau akan selalu mengingat anggota keluarga yang sudah berpulang (kholidina fiiha abada) dan tradisi Among secara esensi tidaklah jauh berbeda dengan haul yang dihadiri oleh ratusan orang, hanya berbeda pada skala, bentuk perwujudan dan level kedekatan personal.

Secara historis Sajen sudah ada sejak jaman Majapahit dan umumnya mengira bahwa Sajen adalah bagian dari budaya impor tetapi saya yakin tidaklah demikian.

Pada jaman Majapahit, rakyat (meskipun kata 'rakyat' ini belum ada waktu itu) dibagi menjadi dua yaitu kalangan Keraton dan kalangan bawah Wong Cilik atau disebut Kawulo. Kalangan Keraton pada umumnya berkeyakinan Hindu atau Budha tetapi untuk para Kawulo mempunyai keyakinan tersendiri, keyakinan ini dinamakan Kapitayan yaitu keyakinan akan yang Maha Satu yang Tidak Dapat di Nalar maupun Di Bayangkan, Tan Keno Kiniro, Tan Keno Kinoyo Ngopo. Para Kawulo menyebut apa yang tidak bisa dinalar maupun di bayangkan ini dengan nama Sang Hyang Taya. Ironisnya kita selalu diajarkan di pendidikan formal bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah berkeyakinan Animisme dan Dinamisme, dua istilah pendangkalan hasil dari arkeolog-arkeolog barat.

Kebudayaan Kawulo dengan keyakinan Kapitayan banyak melandasi keragaman budaya asli Jawa sekarang seperti kata Sembah Hyang (Sembayang), kata Upawasa atau puasa dan adanya puasa 7 yaitu puasa di hari ke 2 dan ke 5 (hitungan hari mulai dari hari Minggu) serta penyebutan diri dengan kata Kulo dan juga tidak terlepas yaitu pewarisan tradisi Sajen yang menurut saya fungsinya sangat unik karena implementasinya sangat kontekstual.

Dalam bidang pertanian-pun seperti Tradisi Wiwitan yaitu ritual sebelum panen padi sebagai rasa syukur bumi dan penghormatan kepada Dewi Sri menurut saya adalah bentuk salah satu sajen yang sifatnya sangat kontekstual dimana masyarakat Jawa sudah mengenal sosok Dewi Sri sebagai dewi penyubur yang menurut saya Dewi Sri itu sendiri merupakan salah satu dari milyaran tangan-tangan Gusti Pangeran yang kita sebut sekarang sebagai Malaikat.

Update: 7 Agustus 2019

Equan Pr.

"Website ini merupakan catatan penulis dalam mempelajari banyak hal tidak sekedar tentang pemrograman, pengembangan game ataupun hardware hack tetapi yang lebih penting adalah Nggoleki Sing Aji"

Salam dan Semoga bermanfaat.